Etos Kerja

Standar

Etos kerja ialah suatu sikap jiwa seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan perhatian yang penuh. Maka pekerjaaan itu akan terlaksana dengan sempurna walaupun banyak kendala yang harus diatasi, baik karena motivasi kebutuhan atau karena tanggung jawab yang tinggi. Ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai yang diyakininya.

                                       صحيح مسلم – (ج 13 / ص 142)

4816 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Terjemahan hadits  :

“Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Alloh daripada Mukmin yang lemah. Dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah atas sesuatu yang bermanfaat untukmu, dan mohon pertolonganlah kepada Alloh, dan jangan malas, dan jika ada sesuatu telah menimpamu, jangan katakan : Andaikan aku mengerjakan maka akan demikian, demikian. Tetapi katakanlah : Alloh telah mentaqdirkannya, sesuatu yang Ia kehendaki, niscaya Ia kerjakan. Sesungguhnya meng-andai-andai itu membuka amalan setan”.

Analisa Hadist :

Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Alloh daripada Mukmin yang lemah

Pada hakikatnya manusia hidup dibumi ini adalah untuk beribadah kepada Alloh, dalam artian seorang mukmin haruslah kuat untuk mampu melaksanakan ibadah. Bukan hanya itu, orang yang kuat akan selalu siap melakukan pembelaan agama Alloh. Bekerja-pun termasuk wujud pembelaan, yang mana orang yang mempunyai materi akan lebih leluasa dalam melakukan apapun. Dalam hal ke-Imanan, kuat bisa diartikan pula sebagai kuat dari sisi kepekaan terhadap amal shaleh, tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang berbau dosa.

Kuat bisa berarti juga dengan konsisten, manajemen waktu dan diri yang baik, mampu melakukan relasi yang baik terhadap sesama manusia, serta kuat dalam menghadapi cobaan dan godaan dan juga mampu menerima apapun yang telah menjadi ketentuan dari Alloh.

“……….dan mohon pertolonganlah kepada Alloh………….”

“Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk:15).

Setiap perbuatan haruslah disadari bahwa kesuksesan tidaklah bisa diraih tanpa pertolongan dari Alloh, karena memang ikhtiar saja tidaklah cukup. Semua yang ada didunia adalah milik dari Alloh. “Hanya kepada-Mu aku beribadah dan hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan.” (Q.S.Al Fatihah: 5). Dan pula orang yang tidak pernah memohon pertolongan kepada Alloh adalah orang yang sombong.

”jangan katakan : Andaikan aku mengerjakan maka akan demikian, demikian. Tetapi katakanlah : Alloh telah mentaqdirkannya, sesuatu yang Ia kehendaki, niscaya Ia kerjakan. Sesungguhnya meng-andai-andai itu membuka perbuatan setan”.

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaannya.” (Q.S.Ar Ra’du: 11). Setiap orang harus berusaha untuk mengubah segala kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya sendiri karena Alloh tidak akan mengubahnya kalau orang tersebut tidak berusaha mengubahnya. Larangan untuk mengatakan “andai”, karena dalam suatu usaha kita tidak dapat memastikan selamanya akan sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Ber-andai-andai merupakan godaan setan untuk mendahului kehendak Alloh bahwa suatu usaha akan berhasil jika Alloh tidak menghendakinya.

Dari dalil hadis dan ayat al-Qur’an di atas dapat dipahami bahwa etos kerja dalam islam adalah sangat penting karena etos kerja termasuk hal-hal yang disukai oleh Alloh. Orang mukmin yang tidak memiliki semangat bekerja sebenarnya adalah manusia yang dikategorikan lemah nilai keislamannya, lemah imannya serta lemah tanggung jawabnya dalam menjalani kehidupannya, bisa disimpulkan bahwa orang tersebut orang Iman yang Dholimulinafsih  (orang yang menganiaya dirinya sendiri) karena ber-Iman tapi tidak sepenuhnya menjalankan nilai-nilai Islam, bahkan biasanya orang tersebut masih tidak bisa meninggalkan hal-hal yang mengandung nilai maksiat. Terakhir, perlu disadari bahwa bekerja itu adalah amanah dan kewajiban bukanlah bekerja karena mencari uang atau rezeki, karena rezeki Alloh-lah yang mengatur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s