Radio

Standar

babylisteningwithheadphones

“Wah, suara penyiarnya oke nih. Kira-kira wajahnya se-oke suaranya nggak ya?”. Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada di benak kita saat mendengarkan suara penyiar kesayangan di radio, sebuah gambaran “intimnya” hubungan antara pendengar dan penyiar.

Sebuah ikatan emosional antara pendengar dan penyiar bisa terjalin, loyalitas pendengar terhadap satu radio kesukaannya pun terbangun dari situ. Radio memang lebih demokratis dibanding televisi swasta nasional yang seragam pada pilihan-pilihan program. Karena radio memang memiliki lebih banyak karakter yang spesifik, ada radio yang khusus menggeber musik dangdut, geser gelombang sedikit sudah ada radio dengan gaya siaran metropolis kosmopolitan, geser frekwensi lagi kita akan menemui radio khusus siaran berita, di sebelahnya sudah ada radio yang sangat feminis, dan di ujung sudah ada radio yang melulu ngomongin info lalu lintas. Di sini target audience maupun positioningnya sudah jelas, dan yang seperti ini tidak pernah kita temukan di televisi. Penonton televisi hanya loyal pada program yang ditayangkan, bukan pada stasiun TV-nya.

girl-family-listening-to-radio-2

Orang akan mendengarkan radio yang siarannya cocok dengan telinga atau preferensi pribadi masing-masing. Ada pendengar yang cocok dengan radio yang memutar musik terus, dan ada juga yang suka mendengar suara si penyiar saja. Cocok-cocokan penyiar di telinga pendengar pun lain-lain adanya, ada pendengar yang suka dengan gaya penyiar gaul ala ABG, penyiar bersuara merdu lembut mendayu, penyiar bersuara renyah, atau penyiar dengan suara mantab khas penyiar RRI. Apapun tipe suara dan gaya siaran sang penyiar, yang jelas pendengar akan selalu kangen dengan penyiar idola dari stasiun favoritnya, sehingga mendengarkan radio bisa menjadi semacam ritual, pendengar bisa kecewa jika terlewat. Jadi, jangan kaget kalau Bens Radio mampu menjaring 4,2 juta pendengar pada tahun 2006 (Cakram edisi radio, 05/2006), tentu kebanyakan dari angka itu adalah pendengar setia.

Orang-orang beroda empat di kota-kota besar yang setiap saat selalu terjun dalam rimba kemacetan jalanan, banyak menggunakan radio sebagai pembunuh sepi. Inilah kekuatan radio yang belum tertandingi oleh televisi, paling tidak untuk situasi di dalam mobil. Di dalam mobil yang terjebak kemacetan, radio bisa menjadi media yang cukup personal, seolah pengemudi merasa ditemani, ditemani oleh lagu-lagu favorit maupun penyiar kesayangan. Sedangkan di rumah, radio kembali hanya bisa “bergerilya” melawan kekuatan audio-visual televisi.music_is_my_life_by_asia1573-d5j4k27

 

Saat ini, radio sebagai media yang terkesan sederhana, tidak angkuh, dan low profile itu hanya mendapat perolehan belanja iklan sekitar lima persen saja dari total belanja iklan di Indonesia. Masa keemasan radio di Indonesia memang sudah lewat, digantikan oleh televisi, tapi percayalah bahwa masih banyak orang yang setia mendengarkan radio dan menanti sapaan ramah dari penyiar-penyiar yang selalu dikangeni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s