Memahami Kemunculan Agama

Standar

 Sakral Dan Profan Emille Durkheim

A. Pendahuluan.

Hubungan antara manusia dengan agama adalah suatu hubungan yang totalitas, artinya bagaimanapun juga kehidupan manusia tidak dapat terpisah dari agama. Namun karena agama yang dianut seluruh umat manusia ini tidak hanya satu, maka tentu saja truth claim (klaim kebenaran) bermunculan dimana-mana. Maka sudah dapat diduga, akan terjadi benturan antar umat dimana-mana yang masing-masing mengklaim “benar”.

Dalam ilmu Sosiologi, agama dilihat sebagai gejala sosial masyarakat yang umum terjadi dan dimiliki oleh setiap masyarakat tanpa terkecuali. Agama mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia seperti kesenian, mata pencaharian, bahasa, system peralatan dan system organisasi sosial, dari manusia itu lahir sampai mati.  Agama adalah system yang mengatur kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta lingkungannya.

Bagi orang seperti Emile Durkheim, agama diakui sebagai sebuah realitas sui generis. Maksudnya adalah bahwa representasi atau simbol-simbol agama bukanlah khayalan (delusion), juga bukan sekadar mengacu kepada fenomena yang lain, seperti kekuatan-kekuatan alam. Melainkan sebuah fenomena sosial semata. Ada relasi yang kuat antara ide pembentukan masyarakat dengan digunakannya agama sebagai alat pemersatu dan menjaga harmonisasi kehidupan masyarakat tersebut. Emile Durkheim, melihat agama merupakan hasil “karya” manusia atas rasa sosial bersama. Ada dua hal pokok yang telah membentuk agama, yaitu sakral dan profan. Yang masing-masing mempunyai peran yang sangat bertentangan dalam kehidupan manusia.

 

B. Pembahasan.

1. Teori Sentiment Kemasyarakatan.

Emile Durkheim mempunyai teori yang baru tentang dasar-dasar agama, dibandingkan dengan para teoritis-teoritis sebelumnya yang lebih condong kepada masalah “jiwa” (anima) dan magic ataupun kejadian-kejadian luar biasa atau krisis, yang terjadi dalam seputar kehidupan manusia, bahkan wahyu dari Tuhan sekalipun!. Menurut Durkheim, bahwa agama itu muncul karena adanya suatu getaran atau suatu emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari rasa pengaruh kesatuan sebagai sesama warga masyarakat. Teori tersebut disebut dengan “Teori Sentiment Kemasyarakatan”. Teori Durkheim berpusat pada pengertian dasar sebagai berikut :

a. Bahwa dalam aktivitas religius yang ada pada manusia, hakikatnya bukan pada pikiran manusia terdapat bayangan-bayangan abstrak tentang roh atau jiwa, tetapi, karena suatu getaran jiwa atau emosi keagamaan yang timbul dalam alam jiwa manusia dahulu, karena pengaruh sentiment masyarakat.

b. Bahwa sentiment masyarakat dalam batin manusia dahulu berupa suatu kompleksitas perasaan yang mengandung rasa terikat, bakti, cinta, dan perasaan lainnya terhadap masyarakat dimana dia hidup.

c. Bahwa sentiment kemasyarakatan yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan dan merupakan pangkal dari segala kelakuan keagamaan itu, tidak selalu berkobar-kobar dalam alam batinnya. Apabila tidak dipelihara, maka sentiment kemasyarakatan itu menjadi lemah dan laten. Sehingga perlu diadakan peng-khobaran sentiment kemasyarakatan dengan mengadakan satu kontraksi masyarakat, artinya dengan mengumpulkan suatu masyarakat dengan pertemuan-pertemuan raksasa.

d. Bahwa emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentiment kemasyarakatan membuthkan suatu objek tujuan. Sifat yang menyebabkan sesuatu itu menjadi objek dari emosi keagamaan bukan karena sifat luar biasanya, anehnya, megahnya, atau ajaibnya, melainkan  tekanan anggapan umum masyarakat. Objek itu ada karena ada peristiwa yang muncul secara kebetulan di dalam sejarah kehidupan masyarakat masa lampau, yang menarik banyak orang dalam masyarakat tersebut. Objek yang menjadi tujuan emosi keagamaan juga objek yang bersifat keramat. Maka objek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan (ritual value) dipandang sebagai objek yang tidak keramat (profane).

e. Objek keramat sebenarnya suatu lambang masyarakat. Pada masyarakat jawa terdapat suatu ritual yang bernama nyadran atau sadranan, dengan meyembelih ayam atau kambing sebagai korban untuk mendapat berkah, hal tersebut merupakan objek kemasyarakatan. Objek keramat seperti itu disebut Totem.

2. Sakral dan Profan

Sakral, dalam bahasa inggris berarti sacred, yang berarti suci atau keramat. Artinya suatu hal yang dianggap mempunyai hubungan dengan ke-Tuhanan (divine) atau ke-akhiratan. Sedangkan Profan atau Profane dalam bahasa Inggris, merupakan kebalikan dari sakral, yaitu tidak kudus (suci) dan atau tidak bersangkutan dengan keagamaan. Artinya, profan merupakan hal-hal tentang keduniawian.

Dalam menceritakan tentang agama sebagai konstruksi sosial dari masyarakat, Durkheim melakukan analisis dengan memunculkan seluruh latar yang berbentuk kebiasaan dan adat istiadat dalam suatu masyarakat. Ia menolak penemuan dari Tylor, Freud dan Frazer yang memberikan definisi agama sebagai bentuk kepercayaan kepada kekuatan supernatural, seperti tuhan atau dewa-dewi. Emile Durkheim menyatakan bahwa pada masa lalu, masyarakat primitif tidak berpikir tentang dua dunia, natural dan supernatural seperti yang dipikirkan oleh masyarakat beragama dalam kebudayaan modern. Masyarakat sekarang berfikir seperti itu karena mereka sangat terpengaruh dengan asumsi dan kaidah-kaidah dasar sains, sedangkan masyarakat primitif tidak. Mereka melihat semua peristiwa (mukjizat dan hal biasa) pada dasarnya sama. Disamping itu konsep tentang dewa-dewi juga dianggap bermasalah, karena tidak setiap agama mempercayai adanya tuhan, walaupun mereka meyakini adanya satu kekuatan supernatural. Berangkat dari pemikiran ini ia kemudian memberikan konsep dunia sakral dan dunia profan sebagai langkah awal memahami asal mula “terciptanya” agama.

Durkheim menemukan karakteristik paling dasar dari setiap kepercayaan agama yang menurutnya tidak terletak pada elemen-elemen supernatural, tetapi pada konsep yang “sakral” (the sacred). Dalam masyarakat beragama manapun, dunia dibagi menjadi dua arena : arena yang sakral dan arena yang profan. Hal-hal yang sakral selalu diartikan sebagai sesuatu yang superior, berkuasa, dalam kondisi normal tidak tersentuh, dan selalu pantas mendapat penghormatan tinggi. Sebaliknya arena profan mengacu pada bagian keseharian dari hidup dan bersifat biasa-biasa saja. Ia juga memberikan definisi bahwa agama adalah satu kepercayaan dengan perilaku-perilaku yang utuh dan selalu dikaitkan dengan yang sakral, yaitu sesuatu yang terpisah dan terlarang. Perilaku-perilaku tersebut dapat disatukan kedalam satu komunitas moral yang disebut masjid, tempat dimana masyarakat memberikan kesetiaannya. Yang sakral memiliki pengaruh yang luas untuk menentukan kesejahteraan dan kepentingan seluruh anggota masyarakat. Sedangkan yang profan tidak memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan komunitas itu sehari-harinya. Hal yang profan ini adalah masalah-masalah kecil yang mencerminkan urusan setiap individu sehari-hari (Kegiatan dan usaha pribadi yang lebih kecil dari kehidupan pribadi dan keluarga dekat). Yang sakral muncul terutama berkaitan dengan apa yang menjadi konsentrasi sebuah masyarakat, sedangkan yang profan adalah apa yang menjadi perhatian pribadi dari seorang individu, atau lebih mudahnya dikatakan dengan kehidupan yang bersifat keduniawian. Mengenai hal tersebut, contoh sakral dalam Islam adalah sholat, pengajian, haji, aqiqoh, puasa, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya. Sedangkan contoh dari profan adalah makan, sekolah, olah raga, dan seterusnya. Bahkan lucunya, ada hal-hal profan yang berubah menjadi sakral karena dianggap lebih kudus oleh masyarakat, semisal memberi pesangon bisa berubah menjadi sedekah apabila diperuntukkan untuk fii sabilillah.

3. Totemisme

Totemisme adalah system agama dimana sesuatu, bisa binatang dan tumbuhan dianggap sakral dan dijadikan simbol kelompok atau suku (clan). Totemisme (diambil dari asal kata oode dalam bahasa ojibwe, yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan keturunan) adalah sebuah kepercayaan keagamaan yang selalu dikaitkan dengan aliran shaman. Totem biasanya adalah hewan atau figur alam yang secara spiritual mewakili sebuah kelompok dari orang-orang yang berhubungan seperti suku (Wikipedia).

 Menurut Durkheim totemisme merupakan agama yang paling sederhana dan primitive yang juga merupakan bentuk organisasi sosial yang paling sederhana. Emile Durkheim mempunyai keyakinan, bahwa ide tentang pemujaan totem tidak lain adalah pemujaan terhadap “masyarakat” itu sendiri (Teori Sentiment Kemasyarakatan). Mengapa selalu yang menjadi totem adalah hewan atau binatang, karena masyarakat menginginkan obyek yang spesifik, nyata dan dekat dengan keseharian mereka.

Sedangkan tujuan dari klan itu sendiri adalah untuk menyatakan kesaling terkaitan dengan berbagai hal, berbagai hubungan yang sangat mengikat seseorang dengan orang lain didalam klan, kaitan klan dengan alam fisik, dan kaitan-kaitan antara berbagai fenomena alam itu sendiri. Sebenarnya, mereka berusaha mencari penjelasan atas fenomena tersebut dan mewujudkannya dalam suatu lambang totem

Emile Durkheim mengatakan bahwa sebenarnya perasaaan keagamaan pertama kali muncul bukan dari momen-momen pribadi, akan tetapi dari upacara-upacara klan yang bersifat komunal. Karena upacara pemujaan dari setiap klan dilakukan secara bersamaan dengan tujuan kesadaran tentang arti penting klan, dan memberikan perasaan bahwa mereka adalah bagian dari klan dan memastikan yang sakral selalu terhindar dari segala sesuatu yang profan. Bentuk pemujaan pertama kalinya biasanya berisi tentang larangan-larangan yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan usaha untuk memperbaharui klan itu sendiri.

C. Penutup.

Objek Keramat (Sacred), duniawi (Profane), dan Totemlah yang nantinya akan menjelaskan proses upacara, kepercayaan, dan metodologi. Ketiga objek tersebut menentukan lahirnya bentuk-bentuk suatu agama. Perbedaan-perbedaan suatu agama akan terlihat jelas dari upacara-upacara, kepercayaan, dan metodologinya. Sebenarnya “ide” masyarakat itu ada dan hidup hanya didalam individu-individu, jadi jika “ide” tentang masyarakat itu dihilangkan sedangkan kepercayaan, tradisi, aspirasi dari kelompok-kelompok hanya dikembangkan secara individu maka dengan sendirinya masyarakat akan mati. Demikian juga dengan tuhan dan agama. Keduanya hanya akan ada sejauh dia memiliki tempat dalam kedaran masyarakat, jadi tuhan tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tidak ada yang menyembah dan memikirkan-Nya.

Daftar Pustaka

 

NB : Sebagian besar tulisan ini adalah copy paste dari berbagai sumber diatas, karena untuk keperluan tugas kuliah yang segera harus dibuat. Saya mohon maaf atas pihak-pihak yang bersangkutan.

 

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s