Maafkanlah aku ibuku

Standar

Sungguh suatu hal yang paling mengharukan dalam hidupku. Di dalam
suatu acara, bernama camping CAI (Cinta Alam Indonesia) tahun 2011
yang dilakukan oleh pemuda LDII solo bagian utara, ketika peserta
camping menangis dan bersujud kepada orang tua mereka. Mereka meminta
maaf kepada orang tua mereka. Kami selakt panitiapun tidak sanggup
menahan tangis ketika menyaksikannya. Kami saling memeluk dan minta
maaf pada sesama kami. Para ayah dan ibu mereka terkaget-kaget dan
bertanya-tanya ”kenapa anakku berlari-lari dengan menangis?”, ”
kenapa tiba-tiba memeluk dan minta maaf?”, ”Ada apa sebenarnya?”.
Dan merekapun menangis dan saling memeluk.
Hanya satu pintaku
Tuk memandang langit biru
Di pangkuan ayah dan ibu

Lagu yang melantun yang menjadi backsound, ditambah lagu ”bunda”
yang sangat menyentuh, membuat kami tidak mampu menahan untuk bersujud
kepada ayah dan ibu.

Ketika aku melihat ibuku datang bersama adikku, aku langsung berlari
dan memeluk dengan erat dan menangis. ”Maafkanlah aku ibu” ,
”Maafkanlah semua kesalahanku” , ”Maafkan aku karena tidak bisa
membalas kebaikan ibu”. Ibu dan adikku menangis, dan mengelus-elus
kepalaku. Sungguh suatu hal yang paling mengharukan dalam hidupku. Di
suatu malam tengah hutan dengan hawa yang sangat dingin.
Entah berapa orang yang melihatku, bahkan teman-teman ibuku juga
melihat tingkahku, tapi aku tidak peduli. Yang ada difikiranku waktu
itu hanya minta maaf dan minta maaf. Sama sekali belum pernah aku
melakukan hal ini sebelumnya, bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku
memeluk ibu ataupun meminta maaf pada ibuku. Fikiranku hanya untuk
ibuku waktu itu. Ketika melihat remaja yang memeluk ayahnya, aku baru
menanyakan keadaan ayah pada ibu yang memang pada waktu itu tidak
datang. Aku tambah menangis pilu dan kuikuti lantunan lagu ”Apabila
ini”
”Hanya sebuah mimpi”
”Ku selalu berharap dan tak pernah terbangun”
sampai berganti lagu ”bunda”.
Pada waktu itu, ada remaja yang berusia kira-kira 19 tahun pinsan dan
di gotong ke tenda kesehatan. Ditelusuri, ternyata dia teringat
ayahnya yang sudah lama meninggal ketika masih kecil dan ibunya juga
tidak datang waktu itu (kami mengetahuinya setelah dia tersadar
beberapa jam sesudahnya). Dia selalu berteriak ”ayah!” , ”ayah” ,
”ayah” lama sekali dan air matanya mencucur.
Para keamanan yang berjaga, hanya terdiam sambil meneteskan air mata.

Orang-orang yang datang (tetangga ataupun teman-teman) hanya diam dan menangis.
Sebelumnya, para peserta (semuanya laki-laki dan usianya antara 14
tahun sampai 25 tahun) camping CAI 2011 kami (panitia) kumpulkan di
suatu tenda besar (kira2 10×15 meter) dilapangan di tengah hutan.
Lampu kami matikan dan kami putarkan lagu ”Hanya satu” milik Mocca
dan ”Bunda” milik Melly Goeslaw. Dengan mata terpejam, seorang
narator meng-hypnosis- dengan mengingatkan ayah dan ibu kami. Ketika
datang ucapan ”ketika tiba dirumah, aku melihat ibuku terbujur kaku,
terlilit kain putih dan banyak orang-orang yang menangis”, ”aku
sudah terlambat untuk meminta maaf”, ”bukalah matamu dan lihatlah
ibumu yang diangkat”. Kami menggotong ”Jenazah” berkeliling
diantara para peserta. Dengan tanpa pemberitahuan pada peserta dan
orang tua peserta kami wajibkan datang pada malam itu, kami bukakan
tenda besar itu, dengan para orang tua peserta yang kami suruh
berjalan menuju tenda itu. Para pesertapun berlarian dan memeluk orang
tua mereka, bersamaan dengan dihidupkannya lampu.
SFX : BYARR.
”ibu!”
”ibu!”
”ibu!”
”ayah”
”maafkanlah aku ayah”
”maafkan aku ibu”
teriakan-teriakan yang bersautan dengan lantunan ”Hanya satu pintaku”
”tuk memandang langit biru”
”dipangkuan ayah dan ibu”

Semuanya menangis tak terkecuali. Yang paling membuatku kasihan,
adalah peserta yang orang tuanya tidak hadir. Hanya berlari
mencari-cari dengan menangis. Akhirnya panitia menjemputnya dan
memeluknya.
Terima kasih atas adanya acara seperti ini.
”Maafkanlah semua kesalahanku ayah”
”Maafkan semua salahku ibu, aku tidak bisa membalas budi kalian”.

Catatan : Minta maaflah pada ke-2 orang tuamu, Sebelum kamu menyesal
tidak dapat meminta maaf. Karena mereka sudah meninggal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s